Pengertian dan karakteristik kelompok
Pengertian Kelompok
Kelompok adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang berinteraksi dan mereka saling bergantung (interdependent) dalam rangka memenuhi kebutuhan dan tujuan bersama, meyebabkan satu sama lain saling mempengaruhi (Cartwright&Zander, 1968; Lewin, 1948)
Muzafer Sherif
Kelompok sosial adalah kesatuan sosial yang terdiri dari dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga di antara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur dan norma-norma tertentu.
*Seseorang yang sama-sama berada di suatu tempat (perpustakaan, halte bus, dll) tetapi tidak berinteraksi dan memiliki tujuan sendiri-sendiri bukan termasuk kelompok, melainkan “agregat”.
Mengapa Orang bergabung dalam Kelompok?
Kelompok adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang berinteraksi dan mereka saling bergantung (interdependent) dalam rangka memenuhi kebutuhan dan tujuan bersama, meyebabkan satu sama lain saling mempengaruhi (Cartwright&Zander, 1968; Lewin, 1948)
Muzafer Sherif
Kelompok sosial adalah kesatuan sosial yang terdiri dari dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga di antara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur dan norma-norma tertentu.
*Seseorang yang sama-sama berada di suatu tempat (perpustakaan, halte bus, dll) tetapi tidak berinteraksi dan memiliki tujuan sendiri-sendiri bukan termasuk kelompok, melainkan “agregat”.
Mengapa Orang bergabung dalam Kelompok?
Ternyata kelompok ada manfaatnya,
yaitu:
a)
Orang-orang lain menjadi sumber informasi yang sangat penting
b)
Kelompok juga menjadi bagian penting dari identitas kita, yang mendefinisikan
siapa diri kita.
c)
Kelompok membantu menegakan norma social, aturan, yang eksplisit atau implicit
mengenai prilaku yang dapat diterima.
Karakteristik
Kelompok
1. Terdiri
dari dua orang atau lebih dalam interaksi sosial baik secara verbal
maupun non verbal.
2. Anggota
kelompok harus mempunyai pengaruh satu sama lain supaya dapat diakui menjadi
anggota suatu kelompok
3. Mempunyai
struktur hubungan yang stabil sehingga dapat menjaga anggota kelompok secara
bersama dan berfungsi sebagai suatu unit.
4. Anggota
kelompok adalah orang yang mempunyai tujuan atau minat yang sama.
5. Individu
yang tergabung dalam kelompok, saling mengenal satu sama
lain serta dapat membedakan orang-orang yang bukan anggota kelompoknya.
Tahap-tahap
Pembentukan Kelompok
Model
pembentukan suatu kelompok pertama kali diajukan oleh Bruce Tackman (1965).
Teori ini dikenal sebagai salah satu teori pembentukan kelompok yang terbaik
dan menghasilkan banyak ide-ide lain setelah kosep ini dicetuskan.
Tahap 1 –
Forming
Pada tahap ini
kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota kelompok cenderung
untuk bekerja sendiri dan walaupun memiliki itikad baik namun mereka belum
saling mengenal dan belum saling percaya.
Tahap 2 –
Storming
Kelompok mulai
mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas-tugas yang mereka hadapi. Mereka
membahas isu-isu semacam masalah yang harus mereka selesaikan. Anggota kelompok
saling terbuka dan mengkonfrontasi ide-ide dan perspektif mereka masing-masing.
Pada beberapa kasus, tahap storming cepat selesai. Namun ada pula yang mandenk
pada tahap ini.
Tahap 3 –
Norming
Terdapat
kesepakatan dan konsensus antara anggota kelompok. Peranan dan tanggung jawab
telah jelas. Anggota kelompok mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring
dengan mereka melihat kontribusi masing-masing anggota untuk kelompok.
Tahap 4 –
Performing
Kelompok dalam
tahap ini dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lancar dan efektif tanpa ada
konflik yang tidak perlu dan supervisi eksternal. Anggota kelompok saling
bergantung satu sama lainnya dan mereka saling respect dalam berkomunikasi.
Tahap
5 – Adjourning dan Transforming
Tahap dimana
proyek berakhir dan kelompok membubarkan diri. Kelompok bisa saja kembali pada
tahap mana pun ketika mereka mengalami perubahan.
Tahapan pembentukan kelompok
Perkembangan sebuah kelompok selalu berbeda satu dengan yang lainnya.
Namun demikian, terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk membentuk
sebuah kelompok. Berikut ini adalah beberapa tahapan dalam pembentukan
kelompok.
Forming. Forming adalah tahap orang berkumpul dan
membentuk sebuah kelompok. Pada suatu kegiatan, tidak sedikit peserta yang
mengikutinya karena penugasan. Kondisi seperti ini tidak jarang menimbulkan
perasaan was-was maupun keraguan di hati peserta tersebut. Beberapa pertanyaan
yang mungkin muncul adalah “Apakah saya dapat mengikuti kegiatan ini dengan
baik?” atau “Apakah saya dapat berbaur dengan peserta yang lain?”. Seorang
fasilitator diharapkan dapat memastikan bahwa setiap peserta yang terlibat
dalam kegiatan tersebut merasa nyaman dengan lingkungan barunya tersebut.
Berikan perhatian secara khusus kepada peserta. Berikan waktu kepada para
peserta untuk saling mengenal satu sama lain. Pada kesempatan ini, fasilitator
dapat pula menggunakan permainan yang memecah kekakuan (ice breaker).
Informing. Informing merupakan tahap dimana kelompok
yang baru terbentuk tersebut diberi penjelasan tentang tujuan dari kegiatan
yang akan diselenggarakan. Pada tahap ini biasanya akan didapati interaksi
antaranggota karena setiap peserta mulai sadar bahwa mereka menuju pada tujuan
yang sama. Seorang fasilitator biasanya akan mencari titik pijak yang sama, dan
membentuk visi, misi, serta tujuan kelompok. Fasilitator diharapkan dapat
menggunakan kegiatan pengenalan dan agenda yang jelas.
Storming. Pada tahap ini, pembangunan peran diantara
masing-masing peserta mulai terbentuk. Storming merupakan fase yang sangat
penting dalam dinamika kelompok, karena pada tahap ini akan terjadi tarik
menarik, uji coba, bahkan konflik. Benturan antarpribadi sangat mungkin terjadi
pada tahap ini – bahkan benturan antara peserta dengan pemimpin kelompok.
Seorang fasilitator diharapkan dapat memberikan dukungan kepada seluruh
kelompok. Dengan mengembangkan dan menggunakan teknik-teknik fasilitasi,
fasilitator juga perlu senantiasa mengingatkan peserta akan tujuan dan
norma-norma kelompok. Usahakan agar fasilitator dapat menjaga terjadinya
keterbukaan dan mendorong setiap peserta untuk mengatasi konflik yang terjadi.
Norming. Tahapan ini merupakan tahap stabilisasi
dimana aturan, ritual, dan prosedur telah ditetapkan dan diterima oleh seluruh
peserta. Peserta telah menyepakati identitas perasn sehingga terciptanya
suasana kebersamaan. Jalan menuju kemajuan disepakati dan disetujui bersama.
Fasilitator diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menghaluskan proses.
Jika diperlukan, perbaiki atau sesuaikan norma yang ada, untuk kemudian
diserahkan kembali implementasinya kepada kelompok.
Mourning. Mourning merupakan tahap akhir dari proses
pembentukan sebuah kelompok. Pada tahapan ini, seluruh tugas telah selesai
dikerjaan dan tujuan utama pembentukan kelompok sudah terpenuhi. Siklus
kehidupan kelompok secara resmi telah berakhir. Terkadang muncul rasa sedih
diantara peserta. Sebagian mulai memikirkan tugas lain yang telah menanti.
Fasilitator yang baik diharapkan dapat membantu peserta dalam mempersiapkan
masa transisi dari pembentukan kelompok menuju bubarnya kelompok. Pastikan
bahwa ada semacam ‘ritual’ perpisahan, baik secara individu maupun secara
kelompok.
Transforming. Pada tahapan ini, tim telah menjadi dinamis
karena pembentukan kelompok sudah terjadi dan mulai ada perubahan baik di
masing-masing peserta maupun pada kelompok secara keseluruhan. Sebagai seorang
fasilitator, diharapkan dapat menunjukkan dukungan dan rasa percaya kepada
kelompok. Hargai perubahan yang terjadi dengan memberikan pujian. Yang perlu
diingat adalah sebaiknya pujian yang diberikan tidak berlebihan.
RUMUSAN
MASALAH
Bisnis
telekomunikasi, merupakan bisnis yang sangat menarik. Hal ini terbukti dari
banyaknya pemilik modal yang menanamkan uangnya dalam bisnis ini. Apalagi para
operator ini banyak mendapat kemudahan untuk memperoleh lisensi. Bisnis
telekomunikasi menjadi bisnis yang sarat dengan persaingan. Munculnya
operator-operator baru merupakan tantangan tersendiri bagi Perusahaan –
perusahaan telekomunikasi untuk selalu ingin menguasai pasar dan sekaligus
memenangkan persaingan . Untuk itu diperlukan sdm yang berkualitas yang mampu
secara mandiri dalam meng create kemampuan skill teknik serta market skill. Ada
banyak hal yang bisa dijadikan senjata seperti sasaran yang jelas, struktur
organisasi yang mendukung, teknologi yang terkemuka, dan salah satu senjata
ampuh itu adalah KERJASAMA/TEAMWORK.
Banyak isu yang berkembang dan menjadi sorotan media massa. Hubungan yang kurang harmonis bisa terjadi antara Provider dengan Product Owner dan Delivery Channel atau dengan unit Bisnis Pendukung. Komunikasi yang kurang terbuka, ataupun kecenderungan unit yang lebih mementingkan unjuk kerja masing-masing, akhirnya terlihat seakan masing masing seolah berjalan sendiri-sendiri, tidak ada koordinasi satu sama lain, bahkan bisa terjadi saling melempar kesalahan.
Banyak isu yang berkembang dan menjadi sorotan media massa. Hubungan yang kurang harmonis bisa terjadi antara Provider dengan Product Owner dan Delivery Channel atau dengan unit Bisnis Pendukung. Komunikasi yang kurang terbuka, ataupun kecenderungan unit yang lebih mementingkan unjuk kerja masing-masing, akhirnya terlihat seakan masing masing seolah berjalan sendiri-sendiri, tidak ada koordinasi satu sama lain, bahkan bisa terjadi saling melempar kesalahan.
IDENTIFIKASI PENYEBAB MASLAH
Dari
gambaran di atas tampak bahwa kurang ada rasa kebersamaan. Mengapa hal ini bisa
terjadi?jika perusahann tsb merupakan perusahaan yang mempunyai cerita sejarah
dan legacy tersendiri. Di masa lalu dan benar-benar berjaya sebagai perusahaan
monopoli, yang dicari customer. Kondisi ini sangat mungkin membuat nya terlena
dan berpengaruh terhadap sikap serta perilakunya. Munculnya perasaan paling
hebat, paling dibutuhkan bahkan bisa muncul sikap yang arogan. Dalam kondisi
diri seperti itu, akan sulit menerima pendapat, mau mengerti orang lain atau
berkorban untuk kepentingan pihak lain. Ini tentu akan berbahaya bagi
perusahaan.
Kompetitor telah didepan mata, semua karyawan perlu menyadari itu, dan harus berubah, produknya yang makin bervariasi menuntut spesifikasi pengetahuan, ketrampilan, bahkan pola layanan yang khas. Satu kenyataan yang tidak bisa dpungkiri bahwa dia memiliki karyawan yang sangat ahli, punya kompetensi dan skill yang bisa menelurkan inovasi inovasi atas produk yang ada. Hal ini tercermin dari munculnya berbagai produk baru, fitur fitur baru atau jenis jenis layanan baru. Dengan munculnya produk yang bervariasi, ternyata membawa konsekwensi pada pelayanan yang berbeda.
Kompetitor telah didepan mata, semua karyawan perlu menyadari itu, dan harus berubah, produknya yang makin bervariasi menuntut spesifikasi pengetahuan, ketrampilan, bahkan pola layanan yang khas. Satu kenyataan yang tidak bisa dpungkiri bahwa dia memiliki karyawan yang sangat ahli, punya kompetensi dan skill yang bisa menelurkan inovasi inovasi atas produk yang ada. Hal ini tercermin dari munculnya berbagai produk baru, fitur fitur baru atau jenis jenis layanan baru. Dengan munculnya produk yang bervariasi, ternyata membawa konsekwensi pada pelayanan yang berbeda.
Mungkin
saja satu unit harus melayani unit lain, atau satu unit membutuhkan support
dari unit lainnya. Setiap karyawan harus menyadari bahwa produk yang akan
memanfaatkan produk hasil kerjanya adalah ‘customer’nya, sehingga ia harus bisa
menunjukkan sikap yang baik kepada customer tersebut. Tentunya apabila tidak
terbiasa melayani atau terbiasa lebih banyak dilayani, bisa berdampak pada
pelayanan pelanggan menjadi tidak memuaskan. Apabila saat diluncurkan produk
baru ternyata terdapat pelayanan yang kurang memuaskan yang dirasakan oleh
pelanggan nya, kesalahan seharusnya tidak dilimpahkan kepada unit yang menjadi
PO atau DC, tetapi juga harus bisa dirasakan oleh unit bisnis pendukung.
Dibutuhkan koordinasi, ketiganya harus seiring sejalan dan melakukan komunikasi
yang intensif, dan merupakan suatu tim kerja yang solid.
Sikap tim adalah sikap ‘kita’ dan sikap ‘milik kita’. Tetapi hal itu sulit untuk diterapkan. Tampaknya ada satu ketakutan, bahwa bila seseorang mengatakan ‘kita’ artinya kita telah kehilangan ‘jati diri’ bahkan ‘kepentingan diri sendiri’. Sepertinya berat membantu orang lain atau memperlancar pekerjaan orang lain atau bahkan menjadi pelayan bagi yang lain. Keinginan untuk menonjolkan ‘keakuan’ masing-masing unit terlalu dominan. Masing-masing unit merasa bahwa unitnyalah yang harus menjadi prioritas, sehingga sulit untuk beradaptasi dengan kebutuhan unit lain. Tentu saja dibutuhkan figure kepemimpinan sebagai pemersatu dari keadaan yang tidak solid dan tidak kondusif ini.
Sikap tim adalah sikap ‘kita’ dan sikap ‘milik kita’. Tetapi hal itu sulit untuk diterapkan. Tampaknya ada satu ketakutan, bahwa bila seseorang mengatakan ‘kita’ artinya kita telah kehilangan ‘jati diri’ bahkan ‘kepentingan diri sendiri’. Sepertinya berat membantu orang lain atau memperlancar pekerjaan orang lain atau bahkan menjadi pelayan bagi yang lain. Keinginan untuk menonjolkan ‘keakuan’ masing-masing unit terlalu dominan. Masing-masing unit merasa bahwa unitnyalah yang harus menjadi prioritas, sehingga sulit untuk beradaptasi dengan kebutuhan unit lain. Tentu saja dibutuhkan figure kepemimpinan sebagai pemersatu dari keadaan yang tidak solid dan tidak kondusif ini.
SOLUSI
Lalu
apa yang harus dilakukan untuk bisa melangkah dan menghadapi persaingan yang
ada? maka sebagai perusahaan yang terdiri dari beberapa divisi regional, divisi
support dan anak perusahaan harus mampu membangun TEAMWORK. Teamwork disini
artinya kemampuan bekerjasama untuk menuju satu visi yang sama dan hal ini hal
ini hanya akan terbangun jika setiap individu dan unit kerja di dalam
perusahaan menyadari bahwa mereka tidak mungkin mampu mencapai tujuan
perusahaan secara sendiri-sendiri. Tiap individu atau tiap unit memang memiliki
tujuan masing-masing. Akan tetapi, dalam teamwork yang efektif, tujuan
masing-masing kelompok akan muncul sebagai target bersama dan menimbulkan
ketergantungan satu dengan yang lainnya secara positif. Product owner memiliki
ketergantungan pada delivery channel, begitu pun sebaliknya, dan masing-masing memiliki
ketergantungan pula pada unit-unit bisnis pendukung.
Secara umum, untuk membangun teamwork yang solid dibutuhkan beberapa syarat :
Secara umum, untuk membangun teamwork yang solid dibutuhkan beberapa syarat :
1. Jangan bersikap individualistis.
Dalam suatu tim yang solid, kita tidak boleh menunjukkan ego masing-masing. Setiap anggota tim harus keluar dari diri sendiri dan masuk ke dalam kesatuan tim. Adanya kesediaan untuk saling menghormati, saling memaafkan saling menerima kekurangan, dan memberi pelayanan satu sama lain. Dalam kondisi ini perlu ada kesediaan individu untuk meninggalkan kepentingan pribadi demi kepentingan yang lebih besar yaitu perusahaan.
2. Berikan kontribusi
Keberhasilan suatu teamwork hanya bisa dicapai karena adanya kontribusi dari setiap individu yang terlibat. Untuk itu setiap anggota tim harus mampu berperan sesuai dengan kompetensinya, sehingga satu sama lain bisa saling melengkapi. Masing-masing unit harus menjalankan tugas dan tanggung jawab, saling menyelaraskan antara upaya yang telah dilakukan satu unit dengan upaya unit lain dalam satu tim sehingga apa yang menjadi sasaran perusahaan dapat tercapai. Kebersamaan tim hanya dapat terwujud, manakala setiap orang atau unit dapat memainkan perannya semaksimal mungkin, dapat mengisi kekurangan unit lain dan bukannya saling menyalahkan.
3. Bersikap fleksibel
Dalam suatu tim, kita harus mampu bersikap fleksibel. Ada kesediaan untuk beradaptasi dengan tuntutan lingkungan. Misalnya dulu biasa dilayani, sekarang harus merubah paradigma yaitu ada kesediaan untuk melayani. Selain itu kita juga perlu kreatif, bila satu cara tidak memberikan hasil, kita harus mampu mencari cara lain yang lebih efektif. Selalu ada keinginan mencoba gagasan baru dan cara-cara baru. Kita tidak boleh kaku dan terpaku pada kebiasaan lama atau keberhasilan masa lalu. Setiap tim harus menjadi ‘learning community’ artinya mereka harus cepat memetakan situasi serta mempelajari ketrampilan baru yang diperlukan untuk menjadi pemenang dalam situasi persaingan.
4. Komunikasi
Ketika seluruh anggota tim tidak mementingkan diri sendiri, mampu bersikap fleksibel dan beradaptasi satu sama lain, maka tim mampu bersatu dalam kebersamaan. Untuk menjadi tim yang kuat, satu sama lain harus saling mengerti, saling memahami, saling memuji. Komunikasi adalah cara untuk saling mengenali satu sama lain. Dalam prosesnya, hubungan yang erat, dimana satu sama lain saling mengenal dengan baik, saling memahami sehingga dapat membaca apa yang sedang dibutuhkan yang lain tanpa harus mengatakannya.
5. Komitmen
Setiap anggota harus memberikan komitmen yang tinggi dalam mencapai tujuan perusahaan. Hal ini ditandai dengan sikap loyal, semangat untuk mencapai tujuan, berupaya untuk menampilkan hasil kerja yang berkualitas dan sempurna, bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukannya dan disiplin.
6. Kepercayaan dan Saling Menghargai
Dengan saling percaya dan saling menghormati, tidak ada musuh yang dapat mengalahkan kita. Dalam satu tim, kita harus menunjukkan kasih sayang dan kepedulian. Setaip anggota tim dapat saling bergantung dan berpegang bersama menempuh berbagai tekanan, menghadapi perlawanan, menghadapi persoalan, baik dari dalam maupun dari luar perusahaan.
7. Patuhilah Pemimpin
Dalam suatu tim, peran kepemimpinan juga cukup penting. Bagaimana sasaran bisa tercapai bila tidak ada pemimpin yang mampu menggerakkan anggotanya untuk mencapai sasaran perusahaan. Dalam kerja tim, anggota tim harus bersedia mematuhi pemimpinnya. Meski demikian, ini tidak berarti pemimpin harus menjadi tiran, yang hanya memaksakan kehendak, dan anggota hanya sebagai hamba saja. Pemimpin dan pemain adalah partner, dengan peran yang berbeda. Tetapi apabila anggota tim menentang, mengabaikan atau menggerogoti wibawa kepemimpinan, maka kebersamaan tim akan terpecah belah.
Pemimpin dan gaya kepemimpinan berkaitan erat dengan dukungan yang sehat dari para pengikutnya.
Pemimpin
yang baik mampu bersikap demokratis, membuka kesempatan setiap anggota untuk
menyampaikan opininya tanpa harus dipotong atau dikecam. Gagasan yang mereka
keluarkan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keputusan atau tindakan
yang diambil dalam mencapai sasaran perusahaan. Dengan demikian anggota tim
merasa bahwa diri mereka bernilai dan dihargai. Kekuatan tim yang paling besar
adalah kekuatan rantai yang terlemah. Seorang anggota tim yang baik harus
pandai melihat kemampuan masing anggota tim lainnya. Ketika melihat ada anggota
tim yang lemah, ia memberdayakan kelemahan tersebut sehingga menjadi lebih kuat
dan mampu berkontribusi. Bila si lemah menjadi kuat maka tim akan menjadi lebih
kuat dan akan menjadi lebih siap untuk menghadapi tantangan-tantangan bersama
di masa depan.
PERKIRAAN DAMPAK SOLUSI
Dengan
diterapkannya beberapa syarat yang menjadi dasar terbentuknya Teamwork yang
solid, masing-masing individu atau komponen dalam perusahaan menjadi tahu peran
dan tanggung jawabnyanya masing-masing. Setiap individu atau unit dalam tim
dapat mengenali apa kekuatan dan kelemahannya sehingga memahami perubahan apa
yang perlu dilakukan dan kontribusi apa yang dapat diberikan guna mendukung
keberhasilan perusahaan. Dampak diimplementasikannya hal ini, adalah
terbangunnya teamwork yang solid dan menjadi senjata ampuh untuk memenangkan
persaingan bisnis telekomunikasi.
Bahkan karena enggannya berkoordinasi, satu jenis layanan bisa ditawarkan oleh 3 unit yang berbeda meski mereka sama-sama dari Perusahaan yang sama.
Bahkan karena enggannya berkoordinasi, satu jenis layanan bisa ditawarkan oleh 3 unit yang berbeda meski mereka sama-sama dari Perusahaan yang sama.
Implikasi Manajerial
Dalam kamus besar bahasa Indonesia implikasi mempunya arti yaitu
akibat.kata implikasi sendiri dapat merujuk ke beberapa aspek salah satu aspek
yang akan saya bahas kali ini implikasi manajerial. Dalam manajemen sendiri
terdapat 2 implikasi yaitu :
1. Implikasi
prosedural meliputi tata cara analisis, pilihan representasi, perencanaan kerja
dan formulasi kebijakan
2. implikasi
kebijakan meliputi sifat substantif, perkiraan ke depan dan perumusan tindakan.
Jadi implikasi manajerial memiliki arti Proses Pengambilan Keputusan
Partisipatif Dalam Organisasi manajerial yang
baik.
Teori Managerial Grid
Teori dikemukakan oleh Robert K. Blake dan Jane S. Mouton yang
membedakan dua dimensi dalam kepemimpinan, yaitu “concern for people” dan
“concern for production”. Pada dasarnya teori managerial grid ini mengenal lima
gaya kepemimpinan yang didasarkan atas dua aspek tersebut, yaitu :
1. Improvised
artinya pemimpin menggunakan usaha yang paling sedikit untuk menyelesaikan
tugas tertentu dan hal ini dianggap cukup untuk mempertahankan organisasi.
2. Country
Club artinya kepemimpinann didasarkan kepada hubungan informal antara individu artinya
perhatian akan kebutuhan individu dengan persahabatan dan menimbulkan suasana
organisasi dan tempo kerja yang nyaman dan ramah.
3. Team
yaitu kepemimpinan yang didasarkan bahwa keberhasilan suatu organisasi
tergantung kepada hasil kerja sejumlah individu yang penuh dengan pengabdian
dan komitmen. Tekanan untama terletak pada kepemimpinan kelompok yang satu sama
lain saling memerlukan. Dasar dari kepemimpinan kelompok ini adalah kepercayaan
dan penghargaan.
4. Task
artinya pemimpin memandang efisiensi kerja sebagai factor utama keberhasilan
organisasi. Penampilan terletak pada penampilan individu dalam organisasi.
5. Midle
Road artinya kepemimpinan yang menekankan pada tingkat keseimbangan antara
tugas dan hubungan manusiawi , dengan kata lain kinerja organisasi yang
mencukupi dimungkinkan melalui penyeimbangan kebutuhan untuk bekerja dengan
memelihara moral individu pada tingkat yang memuaskan.
Komunikasi Organisasi
Dalam system komunikasi organisasi, partisipatif telah menggunakan
komunikasi dua arah, yaitu system atau pola komunikasi yang akan menghasilkan
umpan balik secara langsung dari komunikan untuk dijadikan evaluasi. Pemimpin
akan sering berkomunikasi dengan bawahan dalam merumuskan hal-hal yang dapat
dirumuskan dengan bawahan. Hal ini menunjukkan bahwa komuniksai harus berfungsi
juga sebagai persuatif dan regulative. Kepemimpinan situasional memungkinkan seorang
pemimpin melaksanakan kepemimpinannya sesuai dengan kondisi yang terjadi. Untuk
komunikasi satu arah seperti Telling, mengharuskan pemimpin untuk lebih banyak
mengarahkan, hal ini dilakukan agar tugas yang dilaksanakan sesuai dengan alur
atau tujuan yang telah ditetapkan. Komunikasi satu arah akan mengalami
kesulitan dalam menerima umpan balik sebagai evaluasi bagi organisasi.
Terkadang dengan komunikasi satu arah, kondisi kerja akan terasa kaku karena
bersifat formal.
Dalam kepemimpinan situsional yang dikembangkan menjadi empat bagian,
membutuhkan komunikasi karena pada dasarnya kepemimpinan mempengaruhi orang.
Dalam kepemimpinn ini, Delegating dengan tugas dan perilaku yang rendah menjdi
aspek yang paling disukai apabila bawahan memiliki tingkat kesiapan yang
tinggi, karena ada kebebasan dan kepercayaan dari pemimpin untuk
berpartisipasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar